Saturday, August 18, 2012

terasa dekat..

photo: google

Setiap tahun di Bulan Ramadhan setiap umat muslim manapun di dunia mencurahkan segenap waktunya untuk beribadah. Tak terkecuali saya. Karena di bulan penuh rahmat ini, Allah SWT seperti berjarak dekat dengan umatnya. DIA seperti berada di sekitar kita dengan wujud dan bentuk lain. Terasa dekat dan senantiasa melindungi umatnya dari kotornya hati dan perbuatan. Menghadiahi imbalan lipatan pahala sekehendakNYA. Pada di bulan inilah, Asma Allah berkumandang tanpa henti, berdengung dan mengalun indah setiap harinya. Terasa damai dan tenang.

Sepuluh malam terakhir merupakan waktu yang paling istimewa, karena disaat inilah Allah SWT membagikan pahala bagi umatnya yang berdiam diri di masjid (itikaf), sejak waktu Isya sampai terbitnya fajar. Pahalanya luar biasa, seperti pahala 2 kali naik Haji dan 2 kali umrah. Tidak hanya pahala itikaf, di malam ganjil pun Allah menurunkan kefadholan yaitu malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Ibadahnya hanya 1 hari, tetapi pahalanya seperti ibadah selama 3 tahun.

Alhamdulillah setiap tahunnya, Allah masih memberikan kesempatan dan nikmat sehat kepada keluarga saya untuk beritikaf di 10 malam terakhir. Ada yang istimewa pada itikaf tahun ini, tepatnya di malam ke 27. Malam yang banyak dipercaya umat islam adalah malam turunnya Lailatul Qadr. Saat itu jam di dinding masjid menunjukkan pukul 22.30. Mubaligh sedang bertadarus. Kami pun ikut menyimak dan mendengarkan. Sesekali pada ayat tertentu, Mubaligh membacakan tafsir ayat yang dilantunkan. Kala itu saya berusaha menyimak dengan khusyuk, berusaha melawan rasa kantuk yang bertubi-tubi datang. Alunan ayat suci yang dilantunkan sungguh membuat hati ini tenang, terbawa suasana damai yang menyejukkan.

Seketika air mata saya jatuh, dan terus2an jatuh tanpa henti. Saya sendiri tidak mengerti mengapa ini terjadi. Saya tidak sedang berpikir apa2. Hanya menangis dan menangis. Ada rasa damai, sejuk bercampur haru. Dada saya ini rasanya plong. Seperti habis berteriak dan merasa lega. Ringan sekali rasanya. Saya berusaha menutupi ini agar ibu saya tidak melihat. Tetapi toh akhirnya ketauan juga, ibu pun bertanya mengapa mata saya merah dan berair, saya hanya menjawab saya habis menguap karena mengantuk.

Seketika mubaligh menghentikan tadarusnya, sambil mengutip hadist dan riwayatnya ia berkata: “Siapa yang sampai padanya Al-Qur’an,” sebagaimana dikatakan oleh Muhammad bin Kaab al-Qurazi, “Kemudian ia membacanya,” lanjutnya, “Maka ia seperti sedang berdialog dengan Allah”. Sedangkan Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Jika aku menginginkan agar Allah berbicara kepadaku, maka aku membaca al-Qur’an. Dan tatkala aku ingin berbicara kepada Allah, maka aku melaksanakan shalat.”

Seketika saya paham mengapa air mata saya menetes, menyimak Al-Quran sesungguhnya seperti membaca ayat di dalam hati meski bibir tidak mengucap. Saat itu saya (mungkin) merasa Allah berdialog dengan saya, berbicara dengan saya dan merasakanNYA hadir. Sungguh ini peristiwa yang luar biasa bagi saya. Saya ingin kembali merasakan hal yang sama, terasa dekat dengan Semesta setiap harinya, tidak hanya di Bulan Ramadhan.

Happy Eid Mubarak =)

Friday, August 10, 2012

Sementara...

@missciccone: “When words don't always come out right, just sing it with a song...” 

And so I sing.....

Sementara...
teduhlah, hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh

Sementara...
ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Jangan henti disini

Sementara...
lupakanlah rindu

Sadarlah, hatiku
Hanya ada kau dan aku

Dan, sementara...
akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah

Nikmatilah lara

Untuk sementara saja……

(Float-sementara)

@ratrindah – still trust that eventually, everything will turn out right =)


Sunday, August 5, 2012

office politics

Masih soal soal dunia perkantoran, hehehe, ini temanya banyak ngasi inspirasi untuk nulis, soalnya lagi happening banget di kantor. *tarakdungces*

photo source: google

Pernah denger office politics? Klo kata Wikipedia: "office politics is the use of one's individual or assigned power within an employing organization for the purpose of obtaining advantages beyond one's legitimate authority. Those advantages may include access to tangible assets, or intangible benefits such as status or pseudo-authority that influences the behavior of others. Both individuals and groups may engage in Office Politics.". Office politics has also been described as "simply how power gets worked out on a practical, day-to-day basis.

Terjemahannya kira-kira: “kegiatan yang dilakukan untuk membuat suasana kerja di kantor menghasilkan keuntungan terbaik untuk golongan tertentu ataupun pribadi, entah dengan jalan yang merugikan orang lain maupun tidak. Pekerja yang melakukannya dapat menggunakan cara-cara untuk memanipulasi kelompok tertentu agar idenya mendapat dukungan.”

Contoh simplenya: Ada sekelompok orang di kantor dan pengaruh mereka kuat banget. Misalnya dalam hal memutuskan kebijakan kantor “sesuai” sama kebutuhan mereka. Jika ada project tertentu, mereka udah langsung merapatkan barisan, langsung menetapkan anggota tim dari kalangan mereka sendiri. Contoh lainnya, biasanya keliatan pas lagi meeting, pendapat mereka dominan dan akhirnya hasil rapat di selalu menguntungkan kubu mereka ini.

Parahnya kalau sampe ada beberapa kubu yang saling bersaing satu sama lain, korbannya tentu saja yang ga tergabung dalam blok tertentu, dan yang paling kena imbas adalah nasib para junior yang baru masuk. Kasus paling parah klo kelompok ini sudah melibatkan petinggi di kantor, keputusan sudah pasti berat sebelah dan menguntungkan satu pihak.

Office politics juga bisa berimbas sama bullying, karena biasanya klo sekelompok ini udah ga suka sama satu orang, nah biasanya mainnya keroyokan nih. Jatohnya memang jadinya subjektif banget, satu sebel, smuanya ngikuuuttt sebel.

Oh jadi klo ada geng2an di kantor itu maksudnya office politics ya? Engga jugaaa, klo ada geng yang terbentuk berdasarkan kesamaan minat, misalnya sama2 roker (rombongan kereta), geng ibu2 menyusui, geng para ngerokok, geng Mahmud alias mamah2 muda, itu bukan office politics. Yang disebut office politics klo kelompok2 ini udah punya “pengaruh” untuk menyetir sesuatu, saling nyinyir atau udah main jatoh2an/tikung2an, pembunuhan karakter dll.

Wah di kantor gw ada nih yang begini. cara ngindarinnya gimana dong? Netral atau tidak memihak golongan manapun. Ramah sama semua orang itu penting, tapi juga harus tegas untuk tidak memihak. Cocok2an itu biasa sih, lumrah klo kita udah nyaman sama beberapa orang, jadinya maunya sama itu2 aja. Tapi bergaul sama yang lain ga ada salahnya toh? Sebisa mungkin jangan terpaku sama satu kelompok. 

Tetap professional. Klo udah ngadepin office politics yang udah mulai dominan, jangan memperlihatkan emosi di tengah perbedaan pendapat dan konflik. Fokus sama isu-nya, jangan sama orangnya. Iya tau sih dalam hati empet banget nih sama grup ini klo udah mulai “rese”, tanggepin harus pake kepala dingin, soalnya makin kita ngotot nah mereka makin defense (karena berasa di serang). Dalam soal jumlah udah pasti kita kalah, jadi mesti counter attacknya agak elekhan (baca: elegan) gitu.

Gw udah kena nih sama mereka, udah mulai digosipin nih gw. Santay aja bray, ga usah klarifikasi segala klo digosipin. Itu tandanya mereka lagi insekyurr. Jangan kepengaruh dan berasa panik sendiri apalagi merasa cedih cekalih karena dizolimi trus galau dan pasang status di FB. Dibaca semua orang dan makin runyam jadinya. Just concentrate on your job and let your work and actions do the talking. Inget kita mesti elekhan, klo lagi dapet kerjaan yang melibatkan mereka, usahakan terdokumentasi dengan baik, via email atau nyatet pas lagi meeting. Klo hal pekerjaan memang ruang lingkupnya besar, misalnya udah menyangkut uang, emailnya cc-in email ke bagian keuangan atau atasan. Jadi jangan modal: “katanya-katanya”, wah salah2 bisa diserang karena ga ada buktinya.

Duh gw udah empet banget nihhh, disalahin muluk, gw ramah malah di-bully, eh gw less involved malah digosipin. Coba itung total orang di kantor ada berapa? Tinggal dikurangin grup mereka, nah sisanya kan banyak tuh. Itu aja yang dikonsentrasiin, jangan biarkan mereka ngerusak mood lo. Dimana2 orang nyebelin pasti ada, ga di kantor sendiri maupun kantor lain. Emang udah hukum rimbanya begono, dibikin asik aja. Cape2in energy lo klo mesti dilawan.

Apa gw resign aja ya? Coba dipikir lagi deh, kecuali office politics udah tingkat parah dimana lo dimutasi karena hal yang ga jelas, atau dibunuh karakternya, ditikam dari belakang, nah boleh dipikirin untuk cari alternative lain. Office politics itu ga perlu dilawan kok, dihindarin aja. Klo udah kepalang basah kena jeratannya nah baca2 lagi tips2 diatas plus doa deh buuu, paakk. Eaaa. Eh serius loh, at least biar hati kita adem aja jangan kebawa emosi. Biar gimana curhat paling enak itu ya sama Tuhan, ga mungkin ada yang adu domba, ga ada salah paham dan pastinya biar dibantu.

Selamaaattt bekerrjaaaa, inget noh tagihan2 yang mesti dibayar! Eaaa..cemunguudhh eaaa kaaak =)

Friday, August 3, 2012

Just because people do bad things, doesn't mean their bad people

photo source: google

Mungkin masih pada inget salah satu adegan template sinetron Indonesia yang umum dipake, ketika si antagonis lagi ngomongin jelek si protagonis dan secara ga sengaja kedengeran sama si protagonisnya. Biasanya abis itu si protagonisnya langsung cedih cekalih dan langsung nangis di WC atau di pojokan perpustakaan. adegan selanjutnya datanglah si gebetan sejuta umat yang mergokin protagonis nangis trus nanya: "kamu kenapa? kok nangis?" sambil nyodorin sapu tangan #eeaaaaa

Biasanya klo gw ngeliat adegan itu langsung: *hooeekkkss, jijaaayy*. lah mana kepikiran ya klo bakal ngalamin hal yang sama, tentunya tanpa ada adegan dikasi saputangan gebetan sejuta umat dan nangis di WC. Oia dan perlu diinget, gw protagonisnya yaaa hahahaha *dibahas*

Ceritanya gini, gw secara ga sengaja membaca opini temen kantor gw, dan itu kalimat bernada negatif. Kaget? Jelas, karena meskipun akhir-akhir ini hubungan kita selalu ditempa riak-riak kecil -yang menurut gw lumrah-, gw tetep kaget sama kata yang dia pilih untuk mendeskripsikan gw. *tertohokkk*

Reaksi gw pas baca? Jujur, gw ketawa ngakak, sampe pas ketawanya berhenti, gw terdiam sih, sambil menganalisis situasi yang melatarbelakangi ini semua. Gw pun mengambil kesimpulan: "yak ini cuma miskom alias miss komunikesyong. Let's move on, no hurt feeling, alll izz welll".

Just because people do bad things, doesn't mean their bad people

Saat itu gw bisa aja marah dan mempertanyakan statement dia. Tapi trus gw berpikir, ngapain? mereka nyakitin gw, oke, tapi bukan berarti mereka gw cap penjahat kelas kakap kan ya? hehehe. Ketika emosi meledak, biasanya kita hilang kontrol. Itu lumrah sebagai manusia biasa, Gw pun pernah lepas kendali dan kemudian menyesal atas apa yang gw ucapkan. Tentunya kemudian gw meminta maaf. 

Gw yakin apa yang diucapkan temen gw cuma emosi sesaat dan gw yakin dia juga nyesel, atau anggaplah mereka menyesal. Gw juga memilih untuk tidak bereaksi berlebihan. untuk apa bete? Yang ada malah memperkeruh suasana, buang-buang energi, apalagi kita berada di satu kantor, yang mana satu kantor isinya cuma 50 orang, yang ada bakal ketemu terus, rugi klo bete-an, nyiptain suasana yang ga sehat nantinya. 

Gw lebih melihat kedepan. Memilih diam, bukan karena gw cemen, tetapi berbesar hati memaafkan, mereduksi konflik. Toh biar gimana pun gw pernah melihat sisi terbaik teman gw ini, dan itu yang gw pegang dan gw inget.

Sisi lain yang bisa gw pelajarin adalah, lo ga bisa membuat semua orang suka sama lo. pasti ada aja yang ga nyaman sama kita, entah itu dari omongan atau sikap kita. Klo pas kebetulan ada yang ga suka, yo wiss biarin aja, toh sebenernya itu bisa jadi cermin juga sih. Mungkin ada beberapa yang mesti kita benahin, anggap aja sebagai pengingat.

klo kata Marischka Prudence: "Manusia tanpa emosi itu hampa, individu tanpa kesalahan itu surreal". =)