Tuesday, December 31, 2019

highlight of the year


Sedari dua minggu lalu saya sudah membuat daftar peristiwa yang akan menjadi highlight tahun 2019. 

Daftar itu masih terekam di kepala saya. Belum saya tuangkan ke dalam tulisan.

Tapi saya mengingat dengan baik apa yang terjadi di Januari, Februari, dst. Momen bahagia maupun sedih. Momen keberhasilan maupun kegagalan. 

Dan tepat di hari terakhir di tahun 2019, saya mendapat kabar duka. 

Bude berpulang. 

And that had become the highlight of 2019.



Saturday, December 29, 2018

a week ago at this time


Saya menjalani operasi patah kaki...

Kejadiannya itu pas banget di hari terakhir ngantor, 21 Desember 2018, di trotoar depan kantor. Kebetulan ada mas2 yang lagi naik sepeda di trotoar, lalu pas kita samping2an, mas2nya seperti oleng mau jatoh. Reaksi saya kaget dan langsung geser ke kanan eh ternyata ada legokan/lobang di trotoar tsb dan kaki saya kehilangan keseimbangan kemudian salah mendarat lalu terdengar bunyi “kraaak”pelan. Tidak lama setelah itu kaki saya langsung bengkak sebesar telur.

Dengan keadaan kaki yang bengkak saya memaksakan diri untuk jalan ke halte bis, di halte saya duduk agak lama dengan berharap ini hanya keseleo dan akan membaik dengan sendirinya. Saya cuma perlu nunggu sebentar.

Ketika sakit tak kunjung hilang dan malah makin menjadi2, Saya memutuskan untuk ke RS Jakarta untuk periksa ke Dokter Spesialis Ortopedi: dr. Muki Partono, Sp.OT. Sebelumnya saya pernah berobat ke Beliau untuk cidera otot dan merasa puas dengan penanganannya. Selain ramah, beliau juga bersedia memberi penjelasan sedetail2nya kepada pasien. dr. Muki juga pede dan yakin, he knows what he’s doing and he’s so sure about it, jadi gw yang rada panikan ini bisa tenang.

Ketika hasil rontgen sudah keluar, dr. Muki cuma bilang dengan singkat “patah Mba...” lalu menjelaskan hasil rontgennya. Saya langsung blank, percis kek adegen di film2 yang dokter ngejelasin tapi kita blank ga denger apa2. Dari panjangnya penjelasan beliau, sayup2 saya cuma denger kata “patah”, “agak parah”, dan “operasi”. Begitu Dokter Muki bilang operasi, saya langsung sadar dan minta beliau untuk mengulangi kembali diagnosis dan penanganannya. 

Operasi menjadi usulan beliau karena opsi pemasangan gips tidak menyelesaikan masalah dan pemulihannya lebih lama. Dengan pertimbangan tsb saya akhirnya setuju untuk operasi dan malam itu juga dirawat inap. Saya langsung mengabari orang tua dan mengurus administrasi rumah sakit. Sembari menunggu orang tua saya datang, pikiran saya kemana2. Saya pun mulai membatin “is God trying to tell me something?”.


#flashback sepanjang 2018 ini saya memang sibuk kerja, kerja dan kerja. Pergi pagi, pulang malem. Udah kaya ngekos. Tidur, makan, mandi, tidur, makan, mandi. Interaksi saya dengan orangtua minim sekali jika dibandingkan interaksi saya sama laptop. Saya juga kurang istirahat karena wiken pun saya sering bawa pulang kerjaan. Ibadah saya juga ga maksimal, gaspolnya pas bulan Ramadan saja.

Dari beberapa dugaan, mungkin dengan musibah ini Allah SWT bermaksud untuk negur saya. Mungkin ini teguran agar lebih sering meluangkan waktu sama orang tua (tidak hanya hadir secara fisik tapi juga hadir secara hati dan pikiran). Mungkin ini teguran supaya ibadah makin giat dan ga fokus sama duniawi. Mungkin juga dengan musibah ini saya malah dikasi kesempatan untuk full istirahat, karena badan ini sudah menuntuk haknya untuk istirahat.

Benar atau tidaknya semua kemungkinan diatas, saya menggunakan musibah ini sebagai kesempatan untuk merenung kembali apa yang salah dan apa yang bisa diperbaiki.

Selepas operasi praktis waktu saya banyak di rumah untuk pemulihan. Selama proses pemulihan saya dirawat oleh Ayah dan Ibu. Karena keterbatasan gerak maka dari urusan makan sampai mandi pun saya dibantu oleh orang tua. Jadi ingat 4 tahun persis di tanggal yang sama, mereka juga yang merawat saya yang sedang terpuruk. Cinta orangtua memang tidak itung2an. Aaah semoga disaat nanti saya gantian merawat mereka, saya bisa menyamakan level tulus, kasih sayang dan sabarnya mereka. 


Dari mulai kaki saya patah sampai pasca operasi, saya sengaja tidak memberitahu ke siapa2, hanya orang terdekat saja. Karena saya malas ditanya2 dan beneran ingin fokus sembuh dan istirahat. Semua rencana untuk bekerja pada saat libur praktis gagal total. Di minggu pertama pasca operasi saya sudah mulai rileks, belajar untuk tidak mengeluh, belajar menahan sakit dan sabar dengan proses penyembuhan. Ternyata sakit ini membawa banyak hikmah. hehehehe.

Saya bersyukur ditangani oleh dr. Muki, beliau optimis saya bisa sembuh total dalam waktu sebulan. Beliau juga yang ngedorong saya untuk mulai belajar jalan di hari ke 4 pasca operasi. Alhamdulillah berkat doa keluarga, sahabat dan pertolongan dari Allah saya sudah mulai bisa jalan meski masih belum pede lepas tongkat. Semoga 2 minggu lagi saya sudah bisa berjalan dengan normal. Aamiin. 

 Special thanks to:
  • Bapak kang parkir yang udah baik bangeeeeettt ngejamin supir gojek supaya ambil orderan saya di zona ojek pengkolan (zona berbahaya).
  • Bapak gojek dan satpam yang sudah mapah saya ke lobby RS Jakarta dan bantuin untuk duduk di kursi roda.
  • Suster RS Jakarta yang bantu dorong2 kursi roda.

PS: Jika ada masalah sama tulang, saya rekomendasikan untuk berobat ke dr. Muki Partono, Sp.OT. di RS Jakarta. Silakan lihat Jadwal praktek dr. Muki. Ini bukan endorse ya, tapi murni rekomendasi berdasarkan pengalaman pribadi.