Monday, April 20, 2015

#menuju30: Just keep livin'

Halo!

Jadi gini, september nanti saya genap berusaha 30 tahun. Trus tadi mikir kira2 pengen bikin apa ya untuk ngerayain umur baru?! Hihihiihihi. Akhirnya tadi muncul ide untuk bikin hashtag #menuju30, hashtag ini nanti bisa berupa postingan di twitter atau bisa juga di blog ini. Isinya bisa apa aja yang berupa renungan, hikmah, pelajaran atau apapun lah yang berkaitan dengan #menuju30. Caaa ileee renungan...tua banget yeeee?!

Banyak yang menilai 30 ini merupakan umur yang cukup matang Saya pun pengen ketika nanti resmi berganti umur, saya menjadi Ratri yang baru. Ratri yang lebih baik.

Di postingan perdana #menuju30, kali ini saya pengen curhat sharing tentang “penyesalan”. Baru-baru ini saya merasa menyesal tentang satu hal. Saya ngerasa saya khilaf banget membiarkan diri saya mengalami hal ini. Nyeselnya tuh sampe nyesel banget. Mungkin karena saya melanggar apa yang sudah saya pantang, istilahnya menjilat ludah sendiri. Lalu saya juga mengindahkan peringatan yang sebenernya sudah banyak muncul, dan parahnya saya melanggar perintah orang tua.

Ada selentingan komen yang bilang: “ah karna lo gagal aja jadi ngerasa nyesel, klo lo berhasil mana mungkin lo ngerasa nyesel!”. Hmmm mungkin pernyataan ini ada benarnya, tapi disini saya mau menekankan sesuatu yang bikin saya melihat penyesalan dari kacamata yang berbeda (tsaah bahasa guaahhh, macam komentator sepak bola :p).

Ceritanya begini: hari ini Sydney lagi hujan badai, ini link beritanya klo ga percaya. Hahahaha. Dan apesnya hari ini saya udah janji mau diskusi kelompok sama Maggie, temen kuliah saya. Kita janjian di perpustakaan kampus. Yaah mau gimana lagi, Janji adalah janji, hutang jangan lupa dibayar, akhirnya saya nerobos hujan badai dengan payung kesayangan saya. Simere.

Abis diskusi kelar saya berniat pengen ngaji ke Punchbowl, sepanjang jalan Simere kuat banget menerjang angin. Di saat payung orang lain udah KO, Simere masih gagah perkasa melindungi saya dari terpaan angin dan hujan. *Alhamdulillah ga sia2 saya beli mahal2*. Pas perjalanan menuju Punchbowl, cuaca makin parah, tapi entah kenapa saya keukeuh jumekeuh pengen ke Mesjid. Padahal dari Stasiun Punchbowl ke Mesjid jaraknya sekitar 500m. Kebayang kan rusuhnya jalan kaki setengah kilo dengan cuaca kaya begitu?! Herannya saya ga mikir barang nol-koma-nol-detik pun klo saya mending pulang aja. Pokoknya nih badan udah kaya otomatis pengen ke Mesjid. Bodo amat mau ujan kek mau badai kek.

Nah, ditengah jalan, angin parah banget kencengnya. Baju saya dari pinggang ke bawah udah kuyub-sekuyub-kuyubnya-kuyub. Dan kejadian yang saya ga duga sebelumnya akhirnya kejadian! Di tengah jalan ada bunyi *CTAK*. Saya cek Simere, yaaahhh patah. Disitu saya merasa SEDIH BUKAN MAIN. Simere ini favorit saya banget. Dan dia patah karena saya maksain pake Simere dengan cuaca yang JELAS-JELAS BURUK kaya gini. Saya cuek sama ANGIN, HUJAN, BADAI yang udah bikin setengah badan saya basah begini. Parahnya pas saya sampe mesjid ternyata sepiiii ga ada orang. EAAAAAKKKK. Akhirnya saya harus melewati rute yang sama dan jadi bener2 basah seluruh badan.

Otw pulang, saya akhirnya mikir. Oh ini ya maksudnya kenapa nyesel itu ga ada gunanya. Seburuk2nya hasil akhir, toh itu sudah menjadi keputusan sendiri yang kita ambil (dengan atau tanpa pemikiran yang matang). Saat saya keras kepala tetep jalan kaki ditengah cuaca buruk begini, itu karena saya sudah mengambil keputusan: saya akan ke mesjid. Ketika ternyata sampe mesjid ga ada orang, saya basah kuyub dan payung patah itu adalah RESIKO dari keputusan saya. Sama halnya klo saya memilih untuk pulang ke rumah, berarti saya ga bisa solat Isya berjamaah dan ga bisa ngaji Hadist Ibnu Majjah, itu pun RESIKO.

Kejadian ini bikin saya sadar, apapun keputusan kita, pasti ada resikonya. Semacam berbanding lurus. Ga mungkin ga ada resiko. Poin pentingnya: ketika akhirnya keputusan tidak berjalan sesuai kehendak kita, ga perlu nyalahin siapa2, termasuk ke diri sendiri. Belajar bertanggungjawab sama apa yang sudah menjadi pilihan kita. Setelah itu, ambil hikmahnya.

Hikmah kejadian tadi adalah saya harus lebih objektif melihat hal. Gagal itu biasa. Gagal itu lumrah. Yang mesti disikapi adalah apa yang harus dihindari biar ke depannya ga kejadian kaya gini lagi. Ada maksudnya pepatah "Nasi sudah menjadi bubur" itu diperdengarkan berkali2 dari ketika kita masih kecil.

Sampe rumah saya mandi, memandangi Simere dengan syahdu, mengingat momen2 kami berdua dan langsung buka laptop liat website Kathmandu. BINGO! Simere lagi diskon!!!!

kenangan manis sama Simere


PS: postingan ini didekasikan untuk Sepupu saya Faradina Lubis yang ga bosen ngingetin bahwa: Baik dan Buruk, pasti ada hikmahnya. Love you so much Inahoy :*

Thursday, March 5, 2015

Quote of the day

I’m a type of person who likes to collect great quotes from any sources, whether is in the lyrics of the song, lines from movies and books, or inspiring words from my friends when we chat. It gives me motivation sort of like AHA moment, it makes me think positive or simply makes me smile.

Usually, good quotes are very personal. It moves you because at that time you feel the same way as the creator feel about his/her writings. That’s why sometimes good quotes has a different effect to someone else.

When I found something good about quotes I screen captured it, Favorited it (if its on twitter), or bookmark it (if it’s on the web). Just in case I need something to be inspired on then I can find it easily! So yeah, basically I develop my own personal information management system FOR RANDOM QUOTES! HAHAHAHAHA. Well, this is me practicing my education background. Everything comes from simple things at the beginning, right? LOL

One of my favorite quotes comes from Meredith Grey’s monologues on the first and the last scene in every episode on The Greys Anatomy Series. I’ve been watching that series since the first season was aired. Have you watch this series? You should. And thanks to somebody out there who gathered all Meredith’s monologue from season 1 - present on Tumblr. YAY!! You’ll be amazed.

Recently, I got stuck on few lines from Om Tomo and Om Emir. Both of them are Mubaligh at Punchbowl mosque. We've been learning Ibnu Majjah hadist since last year. Sometimes the two of them gives couple of sermons (nasehat agama) while we interpret chapters in the hadith.

Last night we learned about praying (doa) chapter. Om Tomo said everything that happened in our lives come from God’s will. Then we must address qodar (destiny) with full of gratitude. We shall not to worry or sad too much, because everything happens for a reason. If we hold on for that, if we ridho or ikhlas, Insya Allah we will face every problem easily.

Later, Om Emir gave his sermons about Habluminannas (human relationship). He mentioned about “Dipertemukan karena Allah, dipisahkan karena Allah”. I realized that there is no point in resisting what has become destiny.

Perhaps you’ve heard something good that change your life, please do share :-)