Sudah 5 bulan ini saya
kuliah di Australia, untuk melanjutkan studi saya di program S2. Saya kuliah University
Technology of Sydney dan ambil jurusan Master of Information and Knowledge
Management. Alhamdulillah saya dapat beasiswa, jadi tidak merepotkan orangtua
dalam hal biaya. Alasan saya jauh2 kuliah di Sydney adalah supaya saya punya
pengalaman hidup mandiri di negara asing, memperluas network, dan alasan
utamanya adalah: jurusan yang saya pengen ga ada di universitas manapun di
Indonesia (pada saat itu), dan ternyata justru ada di UTS.
Biasanya opini orang
tentang kuliah di luar negeri adalah: “ih enak banget bisa jalan-jalan”. Ya ada
benarnya sih dan sebenarnya itu juga yang ada di pikiran saya waktu pertama
kali saya dapat “offer letter” (surat keterangan klo saya diterima di
universitas) dari UTS. Tapi ternyata asumsi kebanyakan orang (termasuk saya
sendiri), salah banget.
Saya inget kata2 teman
kantor saya, Mitha, di kartu farewell. Mitha nulis: “Mba, keterima beasiswa itu
baru langkah awal dari rentetan perjuangan yang akan Mba hadapin”. Dan bener
banget setelah selasai 1 semester, saya baru ngerasa beratnya kuliah di luar
negri.
Academic Shock
Culture shock ga ada
apa2nya dibanding academic shock. Dua minggu pertama saya super kaget dengan
metode pengajarannya. Presentasi dosen itu sifatnya pengenalan ke topik, cenderung
abstrak malahan. untuk tau lebih mendalam, mesti baca. List jurnal yang mesti
dibaca minimal 3 jurnal tiap minggu, itu minimal loh ya. I repeat. mi-ni-mal. Klo
ngambil 1 mata kuliah mungkin masih bisa di-handle, tapi klo ngambil 2 mata
kuliah lain yang “sistemnya” sama, berarti minimal tiap minggu saya mesti baca 9 jurnal untuk persiapan kelas untuk minggu depan.
Itu belom apa2 sama kelas
tutorial dan tugas essay. Kelas tutorial ini biasanya ngambil topik yang beda
tiap minggunya. Mekanismenya, mahasiswa jadi “host” untuk 1 topik, dan akan
sharing pendapatnya tentang topik itu berdasarkan materi yang udah dia baca
sebelumnya. Disini yang dinilai partisipasi mahasiswa dalam tutorial ini. Butuh
waktu untuk berani berpendapat di forum kaya gini, terutama klo ada kendala
bahasa dan klo ga baca topik itu sebelumnya. Gimana kita mau berargumen klo ga
punya pengetahuan sebelumnya, lagi2 balik ke alokasi waktu untuk baca.
Sama halnya dengan tutorial,
tugas essay juga ga kalah repotnya. Namanya sih simple, essay, tapi yang
ditulis ga bisa sembarang nulis. Harus terstruktur, alurnya jelas, ga ada lagi
grammatical error, pendapat kita harus didukung sama teori yang ada. Banyak mahasiswa
yang akhirnya copy-paste biar ga repot. Eits, Universitas di luar negri biasanya
mengharuskan mahasiswa submit tugas ke
turnitin, semacam software yang tugasnya detect plagiarisme. Dan klo
skornya lebih dari 50% siap2 ada pengurangan nilai atau bahkan dianggap Failed.
Procrastination
Terjemahannya artinya menunda-nunda
pekerjaan atau sesuatu. Tanpa sadar atau sepenuhnya sadar pasti “penyakit” ini
selalu dilakukan dan bahkan ga sembuh2. Pengalaman saya, saking saya kebingungan
sama apa yang mau ditulis, akhirnya nyerah dan nunda ngerjain essay sampe
weekend. Dan ga terasa deadlinenya tinggal 5 hari lagi. Akhirnya bisa ditebak,
tugas yang dikumpul ga maksimal karena dikerjakan terburu-buru dan dalam
kondisi kurang tidur karena begadang.
Sebulan pertama itu
masa-masa yang berat. Saya banyak nolak ajakan temen untuk jalan-jalan karena
mau fokus ngerjain tugas, kesannya jadi kaya nerd karena ga bersosialiasi. Padahal
banyak hal yang bisa dinikmati di Sydney, tapi saya malah diam di kamar dan
berkutat dengan tugas. Saya takut gagal, karena klo ada mata kuliah yang failed
beasiswa saya terancam ditarik. Waktu pulang kuliah saya coba nanya ke temen2
angkatan penerima beasiswa AAS, gimana progress kuliah mereka. Ternyata ada
yang nasibnya sama kaya saya, tapi juga yang berhasil. Tanpa ragu saya tanya
trik mereka dan ada juga yang saya tambahkan dari pengalaman saya.
Jangan takut untuk nanya
Kelemahan saya itu selalu
salah mencerna pertanyaan essay dan ini diperparah sama saya suka segan untuk
nanya. Menurut teman saya, orang yang paling tepat untuk ditanya adalah dosen
ybs. Karena dosennya yang ngasi tugas, pasti dia bisa menjelaskan maksud tugas
yang dikasi. Temen yang pintar sekalipun belom tentu ngerti dan mungkin aja
bisa salah tangkep. Jangan malu untuk nanya, mereka ngerti kok klo kita
mahasiswa internasional, justru mereka seneng klo kita nanya.
Disiplin
Ini yang jujur susah
banget. Mendisiplinkan diri sendiri untuk fokus belajar. Apalagi internet
disini kenceng banget. Udah siap2 mau ngetik malah buka youtube, browsing sana
sini. Temen ngajak jalan2 langsung disanggupi. Atau malah tidur2an karena lagi
cakung banget. Alhasil target hari ini untuk baca 1 jurnal ga tercapai. Klo nurutin
kemauan ga ada habisnya. Klo pun mau balance antara kehidupan sosial sama
belajar, harus disiplin. Misalnya hari ini full 3 jam ngetik 750 kata, kita
harus komit. Selama 3 jam itu ga buka email, FB, twitter, ga whatsapp-an. Yang perlu
diingat adalah kita harus tanggung jawab sama diri kita sendiri. Harus belajar
gimana I waktu, kapan waktu buat belajar, kapan waktu buat rekreasi
Just make sure to have
fun too
Istirahat juga penting. Kadang berkutat sama materi
pelajaran dalam keadaaan capek itu malah sedikit yang bisa masuk ke otak. Saya
mencoba untuk maksimal tidur jam 12 malam, karena pengalaman saya, percuma
begadang tapi hasil essay saya ga maksimal karena dikerjakan dengan kondisi badan
capek dan mata lelah. Seminggu sekali saya sempatkan waktu untuk berkumpul
dengan teman2 saya. Jalan-jalan keliling kota. Melupakan tugas sejenak dan
menikmati masa-masa saya tinggal di Sydney.
Kuliah di luar negeri memang berat, ada kalanya
saya merasa tidak mampu menjalani ini, tapi seperti kata Mitha: klo menemui
kesulitan, ingat perjuangannya. Alhamdulillah saya dikasi kesempatan untuk bisa
bersekolah (gratis) di luar negeri, belajar banyak soal ilmu baru, pengalaman
ngekost untuk pertama kali, pengalaman bulan puasa di luar negeri, pengalaman
berinteraksi sama mahasiswa internasional lainnya, belajar budaya Australia dan
menikmati keindahan alam panorama Australia.
Menghadapi hal baru memang kadang menakutkan, tetapi
klo kita melihat dari sisi positifnya, saya belajar hal baru tiap harinya. Saya
berani melangkah ke dunia baru yang ternyata menarik dan menyenangkan untuk
dijalani.
![]() |
Photo taken by Aqanta S. Sutarjo
