Tuesday, December 6, 2011

Day 1: lost in Ho Chi Minh City

Sejarahnya dulu Ho Chi Minh City bernama Prey Nokor dan merupakan pelabuhan utama Negara Kamboja. Lalu namanya pun berubah menjadi Saigon ketika kota ini ditaklukan oleh Bangsa Vietnam dan sekaligus didaulat menjadi Ibukota Vietnam Selatan. Pada akhirnya Saigon kemudian diubah namanya menjadi Kota Ho Chi Minh, meskipun nama Saigon masih sering digunakan. Saya memilih kota ini sebagai destinasi travel karena penasaran dengan kotanya, dan juga karena waktu itu dapat tiket PP lumayan murah, yaitu: Rp. 700.000! tetep yaa trip hasil hunting tiket promo. *big grin*

Karena merupakan kawasan asia tenggara, maka tidak diperlukan visa untuk mengunjungi HCM. Perjalanan dari Jakarta – Ho Chi Minh City memakan waktu sekitar 3 jam. Kami pergi dengan maskapai sahabat para backpackers yaitu AirAsia. Hehehe. Sesampainya di Bandara kami langsung menukar uang USD dengan Vietnam Dong (VND) di Money Changer di pintu keluar Bandara.  Perlu diketahui bahwa HCM memakai 2 mata uang yaitu VND dan USD. Ada beberapa money changer, namun tentu saja kami pilih yang harganya paling bagus. Akhirnya kami mengunjungi counter yang paling ramai, dan ternyata benar, rate-nya paling tinggi, yaitu: 1 USD = 21.109 VND. Saya menukar 110 USD dan langsung menerima 2.321.990 VND. Wudiiihhhh berasa jadi orang kaya megang duid sebanyak itu! Hahaha.. *kipas2 uang* 


Melalui salah satu counter, kami juga memesan taksi Vina Sun langsung menuju hotel kami yaitu: Saigon Mini Hotel. Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit dari Bandara ke Kawasan Distrik 1 tempat hotel kami berada. Banyak wisatawan asing yang memilih daerah ini, karena Kawasan ini merupakan kawasan turis backpackers dengan pusatnya berada di Jl. Pham Ngu Lau. Di sepanjang jalan ini dapat ditemui beberapa jenis hotel dan hostel dengan kelas2nya. Dapat juga ditemui beberapa travel agent dan resto. 

Agak sulit menemukan Saigon Mini Hotel karena memang letaknya didalam gang dan tidak bisa dimasuki oleh mobil. Dan gangnya pun ternyata menjadi tempat jajanan kaki lima dan banyak banget orang yang lagi pada makan, jiperrrr euy geret2 koper. Kami memilih hotel ini karena bersih, dekat dengan pusat kota, ber-AC, ada koneksi wifi di kamar dan Murah! Hehehe. Biaya menginap di Saigon Mini Hotel selama 5 hari 4 malam adalah: Rp. 350.000/person. Cukup murah bukan?? Hehehe. Kamar yang kami tempati standar double bed, memiliki kamar mandi di dalam, ada hair dryer dan pemanas air.  Namun harga tersebut belum termasuk sarapan di hotel dan ternyata ga ada air panas.





Sebagai info tambahan, klo ngetrip ke Luar Negri saya selalu hunting hostel/hostel di hostelworld disitu udah lengkap informasinya dan jenis2nya: ada hotel, hostel, dan guess house. Tinggal pilih aja yang sesuai kebutuhan. Tapi klo saya yang penting harus bersih, dekat dari pusat kota, ber-AC, kamar mandi di dalam, akses wifi nyampe ke kamar (atau at least ada PC berakses internet di tempat itu yg bisa digunakan secara gratis), ada kitchennya (jadi bisa masak/manasin makanan).

Setelah check in dan mengabari keluarga, kami pun segera pergi untuk makan malam dan sekalian sight seeing HCM di malam hari. Bagi muslim seperti kami, memang agak kesulitan menemui tempat makan yang halal. Pilihan memang tidak banyak dan mau ga mau, harus makan di junk food macam KFC/Pizza Hut. Range harga makanan di HCM adalah berkisar 30.000 – 50.000 VND. Untuk detailnya:  paket 1 ayam +soft drink + Nasi di KFC berkisar 40.000 VND. Lumayan lah ya, meski ayamnya kecil bangett. Jadi kangen ayam KFC Indo kan gede2 ya? (hidup ayam negri!! Hahaha). Kegiatan selanjutnya adalah berbelanja air mineral dan pop mie untuk sarapan di circle K! 1 liter Aqua harganya 9000 VND dan pop mie (Chicken Flavour) sekitar 5500 VND

Hari pertama kami sempat nyasar, ini peristiwa yang lazim bagi saya, karena dari dulu kalau pergi ke luar negeri di hari pertama selalu nyasar. Masih adaptasi sama peta HCM (ngeles padahal ga bisa baca peta, hahahaha). Kami pun berhasil kembali ke hotel jam 1 malam! Itupun setelah berjalan kaki jauhhh sekali (kami menolak memakai taksi). Perilaku ini jangan ditiru ya, karena tetep aja jalan kaki berdua, di Negara asing, dan di tengah malam itu berbahaya. Walaupun di Negara maju sekalipun tetep mesti waspada. Agak nyesel, apalagi kami sempat melewati kerumunan orang dan polisi, rupanya ada bule yang sedang shock di bajunya pun penuh darah. Entah karena jatoh atau ditodong. Hiyyyyyyyyy!!!!

Monday, December 5, 2011

HCM vs JKT


 Ho Chi Minh (HCM) resmi menjadi trip penutup saya di tahun 2011 ini. Memang tahun 2011 ini saya agak kalap dengan #TravelAchievement : 3 negara dan 3 Provinsi. Agak ngotot memang untuk ukuran newbie seperti saya. Namun berita gembiranya sampai akhir tahun 2011 saya masih punya sisa cuti 4 hari, rencananya akan saya simpen untuk tambahan cuti tahun depan. Hehehe. Lumayan

Trip ini memakan waktu 5 hari dan 4 malam (24 – 28 November 2011), dengan peserta trip hanya 2 orang yaitu Saya dan sahabat saya, Dinda. Cuaca di HCM ketika saya berkunjung cerah berawan, dan beberapa kali sempat mendung dan hujan. Meskipun demikian tetap terasa gerah karena tidak banyak angin yang berhembus, jadi rasanya sumuk sekali. Dugaan saya karena tata ruang kotanya terlalu mepet2, sehingga angin tertahan gedung2 bertingkat. 


Nampaknya tidak banyak wisatawan Indonesia yang berkunjung ke HCM, sepanjang 5 hari trip justru saya selalu disangka orang Malaysia! Bahkan tour guide kami, tidak tahu Indonesia! Weleh weleh. Mungkin karena HCM bukan destinasi pilihan favorit jika dibandingkan dengan Hanoi dengan Halong Bay-nya atau Sepa dengan wisata budaya asimilasi antara Vietnam dan China.


Sebagai bayangan, HCM itu persis seperti suasana di daerah Kota/Pasar Senen. Banyak gedung tua dan arsitektur bangunannya dibiarkan apa adanya sehingga terasa nuansa vintage-nya. “11-12 sama Jakarta” itu kesan saya pas mendarat di HCM. Jika dibandingkan dengan Jakarta memang ada banyak miripnya.


Bikers attitude!
Saya sempet ngira klo pengendara motor di Jakarta itu paling parah sedunia, tapi ternyata ada yang lebih parah!! HCM juaranya!!! jumlah motor di HCM lebih banyak dibanding mobil. Eh salah deng,  bukan hanya ‘banyak’ tapi ‘banyaaakkk bangeeetttt!!’ Jadi kira2 perhitungannya motor dan mobil adalah 20 : 1. Serabutannya? Tetep HCM juaranya! Mau nyebrang aja susahnya minta ampun, karena mereka ga mau berhenti ngasi jalan, bahkan saya udah ngangkat tangan lho. Dan cara nyetirnya lebih parah juga, mereka naik motor ambil jalur di tengah2, dan meski udah di klakson beberapa kali juga ga minggir2. Ada juga sih kelakuan yang mirip2 sama pengendara motor di Jakarta, yaitu: nelpon sambil nyetir motor! Hehehehe. Oia siap2 sakit leher klo nyebrang di jalanan HCM, karena sepeda motor itu datang sewaktu2 dan dari berbagai arah, jadi harus waspada dengan liat kiri-kanan-kiri-kanan-kiri-kanan sampe akhirnya berhasil nyebrang! *sigh..

udah kaya laler, ada dimana2

Oh, Traffic!
Di HCM itu ada macetnya juga, sama kaya di Jakarta, jam macet itu ketika pagi hari dan sore hari ketika pekerja pada pergi dan pulang kantor. Tapi bedanya macetnya disini masih ‘jalan’, alias ga berenti kaya di Sudirman-Thamrin-Kuningan-Mampang-Buncit pas pulang jam kantor. Kalau siang, macetnya hanya di lampu merah, karena tata kota di HCM agak mirip2 di New York, banyak perempatan jalan, dan dikit2 lampu merah. 

Public Transportation!
Menurut saya, transportasi publik HCM lebih baik dari Jakarta. Meski di Jakarta lebih banyak jenisnya, tapi di HCM lebih teratur. Bis umum di HCM berhenti di tiap halte, bisnya lebih besar dan ber-AC. Padahal tarifnya sama yaitu 4000 VND atau Rp. 2000, tarif kaya kopaja tapi besarnya kaya patas 213. Sama seperti di Jakarta, di HCM juga ada ojek, becak, bis dan taksi. Yang membedakan, HCM belum punya KRL dan beberapa bis terakhir beroperasi jam 21.00.

Electricity and Internet Connection
Sama kaya di Jakarta, di HCM juga ada mati lampunya lho. Hahahaha. pernah sekali mengalami mati lampu, untungnya pas udah malem, jadi pas emang jam tidur juga. Jadi tidak mengganggu. Pemandangan yang lazim dijumpai di HCM adalah tiang listrik yang ruwet. Tiangnya cukup rendah bila dibandingkan dengan tiang listrik di Jakarta. Hal ini disebabkan karena banyak bangeettttt kabel listrik yang disangkutin di tiang listriknya, jadi mungkin keberatan kabel akhirnya jadi landai turun ke bawah. Selain itu kabelnya dari berbagai arah sehingga klo dilihat dari bawah mirip sarang laba-laba. Ruwet banget! Hahahaha

spider web


Salah satu yang mudah dicari selama di HCM adalah koneksi Wifi!! Untuk yang ga tahan online macam saya, koneksi internet di HCM lebih kenceng dibanding Jakarta. ditiap resto hampir dipastikan ada koneksi wifi dan bahkan di hotel saya menginap, ditiap lantainya ada routernya. Padahal 1 lantai Cuma ada 2 kamar. Keren yaaa?! Hehehehe..Klo lagi trip ke luar negeri memang yang mesti-wajib-ada itu koneksi wifi di kamar, karena kalau mengaktifkan international roaming di HP muahall bangeettsss, jadi mendingan saya mengabari orang rumah pake email aja. Hehehe. Gratis pula kan?! 

Entertainment
Klo soal ini kayanya Jakarta itu juaranya deh. Mall ada lebih dari 7 bahkan kasta tingkatannya juga untuk mall yang menengah ke bawah, mall kelas menengah dan mall kelas atas.Kedai kopi di Jakarta aja ada macem2, dari yang franchise sampai yang lokal. Mau wisata kuliner pun di Jakarta ga susah, udah banyak resto Jepang, Korea, India, Pakistan, Turki, Cina, dan jajanan kaki lima pun hampir bisa ditemukan tiap 5 meter. Di Jakarta semua ada, lengkap dan rata2 buka 24 jam. Nah klo di HCM hanya di tempat tertentu saja, seperti kawasan turis (distrik 1) itu pusatnya entertainment. Namun yang banyak disana juga club ajojing, bar, dan cafĂ©. Selebihnya tersebar di beberapa wilayah, namun jumlahnya tetap dikit dibandingkan dengan Jakarta. 

“English please….”
Nah klo soal bahasa inggris, penduduk Jakarta tergolong lebih baik dibanding HCM yang acakadul! Yang tergolong fasih berbahasa Inggris ya Cuma tour guide atau agent2 travel. Rasanya Inggris saya turun jadi basic 1 karena penduduk HCM cuma menggunakan percakapan sederhana. Bahkan percakapan macam “where are we?” aja mereka ga ngerti, jadi akhirnya diganti dengan: *nunjuk tanah* *nunjuk peta*. Nah baru deh mereka ngeh klo kita nanya: ini dimana? Jalan apa? *tuinggggg!! Lagi2 bahasa tarzan emang pantas dinobatkan menjadi bahasa international! hehehehe

Begitulah pengamatan saya selama 5 hari 4 malam di HCM, yang ternyata sama ga berbeda jauh sama Jakarta.